Printed
Pembuatan Single Layer Flat Die, Dual Layer Flat Die Dan Penerapan Sistem Pemanas Pada Mesin Biopellet
Biopellet adalah salah satu bentuk energi terbarukan yang berasal dari biomassa. Kualitas biopellet yang baik tentu dihasilkan oleh mesin penghasil biopellet yang baik. Mesin penghasil biopellet memiliki beberapa bagian yang sangat mempengaruhi kualitas biopellet, seperti roller dan die. Roller merupakan komponen yang mendorong bahan baku ke dalam lubang die. Die merupakan komponen utama dalam mesin biopellet yang berfungsi membentuk biomassa menjadi pelet.
Peningkatan suhu dalam proses pembuatan biopellet mampu meningkatkan nilai kalor dan kerapatan dari biopeller tersebut akibat lignin yang berubah menjadi lunak sehingga mampu menjadi pengikat, dimana peningkatan suhu ini terjadi akibat gesekan antara roller dengan die Akibat gesekan yang terjadi, roller dan die mengalami keausan. Proyek akhir ini bertujuan memodifikasi mesin pembuat biopellet dengan penerapan single layer flat die serta penerapan sistem pemanas dan dual layer flat die. Penerapan dual layer pada die bertujuan untuk mengurangi tekanan kompaksi pada saat proses peletisasi, lalu untuk penerapan sistem pemanas pada single layer flat die bertujuan untuk mempercepat waktu pemanasan pada saat proses peletisasi sehingga dapat. Pembuatan single layer flat die dan dual layer flat die meliputi proses turning, proses drilling, proses grinding dan proses milling. Penerapan sistem pemanas menggunakan modul mduction heater ZVS sebagai pemanas induksi. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian kualitas (dimensi), pengujian sistem pemanas dan pengujian assembly. Hasil pengujian dimensi dari beberapa komponen terdapat kegagalan pada flat die yang memiliki lubang pelet tirus, kegagalan ini terletak pada lubang tirus yang dibuat, namun kegagalan ini masih dalam batas toleransi secara fungsi. Pengujian pada sistem pemanas dinyatakan berhasil karena sistem pemanas mampu memanaskan single layer flat die hingga suhu 120°C dimana suhu ini yang membantu proses peletisasi dalam pelepasan lignin. Pengujian assembly dinyatakan berhasil karena setiap komponen dapat dipasangkan pada komponen lainnya. Pengujian fungsi flat die dinyatakan gagal karena tidak mampu menghasilkan pelet yang padat. Kegagalan disebabkan oleh kekerasan layer 1 flat die yang lebih rendah dibandingkan roller konus sehingga terjadi keausan cepat yang membentuk celah (gap) dan menyebabkan bahan baku menempel di permukaan flat die, serta panjang output lubang pelet yang terlalu pendek sehingga pelet yang dihasilkan belum padat.
Tidak tersedia versi lain