Text
Perancangan Greenhouse Geothermal Pengering Biji Kopi Berkapasitas 2000 Kg untuk Meningkatkan Efisiensi Pasca Panen
Kawasan Ciwidey-Patuha, Kabupaten Bandung, merupakan sentra produksi kopi Arabika di Jawa Barat yang berdekatan dengan sumber panas bumi PLTP Patuha. Namun, pengeringan pascapanen masih mengandalkan penjemuran konvensional yang bergantung cuaca, membutuhkan 21–40 hari, dan menghasilkan mutu biji tidak konsisten, sementara potensi geothermal daerah tersebut belum termanfaatkan optimal. Hal ini melatarbelakangi perancangan greenhouse pengering kopi hybrid geothermal berkapasitas 2000 kg/siklus dengan target kadar air 12%.Perancangan dilakukan menggunakan metodologi VDI 2222, meliputi penyusunan daftar tuntutan, pembuatan varian konsep, hingga terpilihnya rancangan akhir dengan rangka SS400/ST37, 6 unit tray SUS304 dalam 2 tingkat, dipanaskan 8 unit coil condenser (40–55°C) bersumber uap geothermal sebagai pemanas utama dan radiasi matahari sebagai pemanas sekunder, disirkulasikan blower sentrifugal forward-curved berpengaturan VFD. Estimasi durasi pengeringan sebesar 273,6 jam (11,4 hari), 46–71% lebih cepat dibanding metode konvensional. Kelayakan kadar air divalidasi melalui Equilibrium Moisture Content (EMC) model Henderson, menghasilkan 3,3–3,7% (wb) pada kondisi udara rancangan jauh di bawah target 12%. Validasi sirkulasi udara melalui parameter ACH menghasilkan 14,7 kali/jam, didukung simulasi CFD yang menunjukkan distribusi kecepatan dan suhu merata ke seluruh tray.Rancangan greenhouse geothermal ini secara teoritis dan termodinamika layak sebagai solusi pengeringan kopi yang lebih cepat, konsisten, dan tidak bergantung cuaca, berpotensi meningkatkan efisiensi pascapanen di Ciwidey-Patuha. Validasi pada purwarupa fisik tetap diperlukan untuk memastikan pencapaian kadar air dan kestabilan kelembaban di lapangan.
Kata kunci: greenhouse geothermal, pengeringan kopi, panas bumi, pascapanen,
Tidak tersedia versi lain