Printed
Neraka Guantanamo: Kisah Derita Seorang Muslim Di Penjara Khusus Teroris AS
Sebagian penjaga mulai melakukan permainan. "Edisi khusus, edisi khusus! Kemarilah ambil AlQuran kalian-kitab yang paling suci dari kitab-kitab suci. Belajarlah bagaimana membunuh orang Amerika ..." Alih-alih menyerahkannya, polisi militer itu melemparkan AlQuran. Timbullah keributan - orang-orang meneriaki para penjaga. Aku merasa begitu tidak berdaya.
Seorang penjaga berkata kepadaku, "Aku meyakinkan diriku setiap hari bahwa kalian lebih rendah daripada manusia-agen-agen setan-sehingga aku dapat melakukan tugasku. Jika tidak, aku harus memperlakukan kalian seperti manusia."
Saat itu, masih ada seorang yang sedang shalat. Sersan tersebut memegang dia dengan kasar, menyeretnya dengan menjambak rambutnya, dan melemparkannya serta berteriak, "Kamu seharusnya berdoa kepadaku, keparat! Aku adalah satu-satunya tuhan yang kamu miliki di sini!"
Moazzam Begg, seorang muslim inggris, tak pernah membayangkan akan mengalami penderitaan ini. Ia beserta keluarganya pindah dari Inggris ke Afghanistan untuk menjalankan misi sosial membangun sekolah gratis dan sumur-sumur air.
Di tengah gempuran Amerika atas pemerintah Taliban, mereka mengungsi ke Pakistan.
Pada 31 Januari 2002 Moazzam diculik dari rumahnya di Islamabad oleh agen rahasia Amerika Serikat, dengan tuduhan terlibat terorisme. Dimulailah penderitaannya: ditahan tanpa kejelasan status, berpindah-pindah dari Bagram, Kandahar, dan akhirnya di Guantanamo. Ia dibebaskan 3 tahun kemudian, tanpa pernah diajukan ke pengadilan dan tanpa terbukti bersalah.
Inilah buku pertama yang membeberkan penderitaan tahanan di penjara-penjara ilegal AS yang tersebar di berbagai penjuru dunia, serta menggambarkan nasib sekian banyak korban "perang melawan teror" yang dijalankan AS secara membabi-buta.
Tidak tersedia versi lain